Senin, 07 Oktober 2013

Arsitektur Komputer dan Struktur Kognitif Manusia

Apasih sebenarnya arsitektur komputer itu? Dalam bidang komputer, arsitektur komputer adalah konsep perencanaan dan struktur pengoperasian dasar dari suatu sistem komputer. Arsitektur komputer ini merupakan rencana cetak-biru dan deskripsi fungsional dari kebutuhan bagian perangkat keras yang didesain (kecepatan proses dan sistem interkoneksinya). Beberapa contoh dari arsitektur komputer adalah arsitektur von Neumann, CISC, RISC, blue Gene, dll. Arsitektur komputer juga dapat didefinisikan dan dikategorikan sebagai ilmu dan sekaligus seni mengenai cara interkoneksi komponen-komponen perangkat keras untuk dapat menciptakan sebuah komputer yang memenuhi kebutuhan fungsional, kinerja, dan target biayanya.

Sedangkan stuktur kognisi manusia itu bagaimana? Struktur kognisi (dalam Abdulkarim, 2006) yaitu keseluruhan pengetahuan yang dapat dijadikan landasan untuk memahami dan menafsirkan dunia dan kejadian-kejadian alam. Sedangkan kognisi manusia adalah unsur yang saling berhubungan antara satu sama lain yang saling mengakomodir atau saling melengkapi antara fungsi-fungsi, skema. Seperti bagian otak yang mengakomodir unsure bagian-bagian tubuh yang menjadikan suatu sistem yang kompleks.
6 tingkatan kemampuan kognisi manusia menurut Bloom:
1.Tingkat pengetahuan (knowledge level), berisi kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, dll.
2.Tingkat pemahaman (comprehension level), dikenali dari kemampuan untuk membaca dan memahami gambaran, laporan, tabel, diagram, arahan, peraturan, dsb.
3.Tingkat aplikasi (application level), di tingkat ini seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dll di dalam kondisi kerja.
4.Tingkat analisis ( analythical level), seseorang akan mampu menganalisa informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstruktur informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari skenario yang rumit.
5.Tingkat sintesa (synthesis level), mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yang dibutuhkan.
6.Tingkat evaluasi (evaluation level), kemampuan untuk member penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dsb dengan menggunakan criteria yang cocok atau standar yang ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya.

Bagaimana kemudian kaitan antara struktur kognitif manusia dan arsitektur komputer? Dari penjelasan sebelumnya dapat dilihat bahwa terdapat kesamaan diantaranya yaitu tentang hal dalam malakukan proses informasi. Arsitektur komputer sendiri memiliki definisi sebagai konsep perencanaan dan struktur pengoperasian dasar dari suatu komputer, sehingga kognisi manusia turut berperan dalam pembuatannya.

Kelebihan dan kelemahan arsitektur komputer dibandingkan struktur kognisi manusia, diantaranya yaitu:
a.Kelebihan dan kekurangan dari arsitektur komputer, yaitu:
Kelebihan:
1.Memiliki processor yang berjumlah lebih dari satu
2.Bisa digunakan oleh banyak pengguna (multi user)
3.Dapat membuka beberapa aplikasi dalam waktu bersamaan
4.Kecepatan kerja processornya hingga 1GOPS (Giga Operations Per Second)

Kekurangan:
1.Karena ukuran yang besar, maka diperlukan ruangan yang besar untuk menyimpannya
2.Harga sangat mahal
3.Interface dengan pengguna masih mengikuti teks
4.Membutuhkan daya listrik yang sangat besar

b.Kelebihan dan kekurangan dari struktur kognisi, yaitu:
Kelebihan:
1.Struktur kognisi lebih sistematis sehingga memiliki arah dan tujuan yang jelas
2.Banyak memberi motivasi agar terjadi proses belajar
3.Mengoptimalkan kerja otak secara maksimal

Kekurangan:
1.Membutuhkan waktu yang cukup lama
2.Terkadang sulit mengaplikasikan dikehidupan sehari-hari, karena tergantung individu masing-masing dalam mengoptimalkan cara berpikir mereka

Contoh kasus:
Seperti yang dijelaskan sebelumnya arsitektur komputer memudahkan manusia dalam menggunakan komputer, dan hal ini terkait dengan proses kognisi manusia dalam mengingat informasi. Contohnya saja gambar save yang berlambangkan disket akan mempermudahkan kita dalam mengingat simbol untuk melakukan penyimpanan data karna disket merupakan tempat penyimpanan data.

Analisa:
Seperti yang dijelaskan sebelumnya maka arsitektur komputer sangat bermanfaat untuk kita. Arsitektur komputer dapat mempermudah kita dalam melakukan proses dalam penggunaan komputer, sehingga kognisi manusia pun dapat dengan mudah mengingat dan menjalankan proses pemograman dalam komputer. Misalnya saja dalam menafsirkan simbol-simbol yang ada dalam komputer, dengan melihat simbol yang ada dalam komputer maka sistem kognisi yang ada dalam diri akan langsung menerjemahkan makna dari simbol-simbol tersebut.




DAFTAR PUSTAKA:
Abdulkarim, Aim. (2006). Pendidikan Kewarganegaraan. Bandung : Grafindo Media Pratama.

id.wikipedia.org/wiki/Arsitektur_komputer

adeirmasuryani.wordpress.com/2012/10/07/hubungan-arsitektur-komputer-dan-kognisi-manusia/

ririnyp.wordpress.com/2013/09/27/arsitektur-komputer-dan-struktur-kognisi-manusia-2/

Sistem Informasi Psikologi

Sebenarnya bagaimana pengertian informasi sehingga dapat berinteraksi dengan sistem? Namun sebelumnya apa yang dimaksud dengan informasi? Menurut Kenneth C. Laudon (dalam Gaol, 2008), information is data that have been shaped into a form that is meaningful and useful to human being.” Yang mengandung pengertian informasi adalah data yang sudah dibentuk ke dalam sebuah formulir bentuk yang sudah dibentuk ke dalam sebuah formulir bentuk yang bermanfaat dan dapat digunakan untuk manusia. Sedangkan menurut Anton M. Moeliono (dalam Gaol, 2008) informasi adalah penerangan, keterangan, pemberitahuan, kabar atau berita (tentang). Kemudian bagaimana informasi dapat berinteraksi dengan system? Informasi merupakan data yang telah diklasifikasikan atau diolah atau diinterpretasikan untuk digunakan dalam proses pengambilan keputusan. Sehingga konsep dari sistem informasi adalah suatu sistem dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian yang mendukung fungsi operasi organisasi yang bersifat manajerial dengan kegiatan strategi dari suatu organisasi untuk dapat menyediakan kepada pihak luar tertentu dengan informasi yang diperlukan untuk pengambilan keputusan. Oleh karena itu sistem informasi dalam suatu organisasi dapat dikatakan sebagai suatu sistem yang menyediakan informasi bagi semua tingkatan dalam organisasi tersebut kapan saja diperlukan.

Bagaimana kemudian penggunaan sistem informasi dalam psikologi digunakan? Dalam psikologi koginitif, otak merupakan pusat pengolahan informasi. Informasi diperoleh dari pengalaman hidup sehari-hari yang ditangkap oleh penginderaan, yang kemudian hasil informasi dikirim melalui jaringan saraf tertentu ke susunan saraf pusat di otak.

Contoh Kasus:
Ketika kita ingin mengetahui suatu informasi maka kita akan mencari tau dari pihak luar mengenai apa yang ingin kita ketahui untuk mendapatkan informasi.

Analisa:
Seperti yang dijelaskan sebelumnya sistem informasi memang sangat dibutuhkan oleh setiap orang untuk mendapatkan berbagai informasi yang ingin kita ketahui. Misalnya saja dalam dunia pendidikan, maka akan dibutuhkan informasi untuk mendapatkan pengetahuan yang luas. Informasi tersebut kita terima melalui penginderaan kita yang kemudian akan di proses hingga saraf pusat otak. Berbagai sumber untuk mendapatkan informasi tersebut dapat kita peroleh dari berbagai sumber seperti orang-orang disekitar kita, media cetak maupun media elektronik. Sehingga dalam dunia psikologi dijelaskan jika setiap sistem informasi yang kita terima maka akan dilakukan pengolahan di otak yang kemudian dikirim oleh jaringan saraf sehingga akan menjadi sebuah informasi seperti yang ingin kita dapatkan.




DAFTAR PUSTAKA:
Gaol, Chr. Jimmy L. (2008). Sistem Informasi Manajemen. Grasindo.
Satyadarma, Monty. Cerdas Dengan Musik. Puspa Swara. (Googlebooks)
apr1l-si.comuf.com/SI.pdf

Jumat, 15 Maret 2013

Psikoterapi

Mengenai Psikoterapi itu apasih sebenernya? Apa yang dimaksud dengan psikoterapi, kemudian apa saja tujuan, unsur, bentuk maupun perbedaan dan pendekatan dari psikoterapi? Untuk itu maka akan dibahas beberapa diantaranya sebagai berikut.

A. Pengertian
Dalam Gunarsa psikoterapi lahir pada pertengahan dan akhir abad yang lalu, dilihat secara epistimologi yang mempunyai arti sederhana, yakni “psyche” yang artinya jelas yaitu “mind” atau sederhananya : jiwa dan “theraphy” dari Bahasa Yunani yang berarti “merawat” atau “mengasuh”, sehingga psikoterapi dalam arti sempit adalah “perawatan terhadap aspek kejiwaan” seseorang. Dalam Oxford English Dictionary, perkataan “psychoterapy” tidak tercantum, tetapi ada perkataan “psychotherapeutic” yang diartikan sebagai perawatan terhadap sesuatu penyakit dengan mempergunakan teknik psikologis untuk melakukan intervensi psikis. Dengan demikian perawatan melalui teknik psikoterapi adalah perawatan yang secara umum mempergunakan intervensi psikis dengan pendekatan psikologik terhadap pasien yang mengalami gangguan psikis atau hambatan kepribadian.

B. Tujuan
Terdapat 5 tujuan dari Psikoterapi, antara lain sebagai berikut:
1. Pikiran – pikiran kalut. Individu – individu yang mengalami kesulitan secara khas menderita konfusi, pola – pola pikiran yang dekstruktif, atau tidak memahami masalah – masalah mereka sendiri. Para terapis berusaha mengubah pikiran – pikiran ini dan memberikan ide – ide atau informasi baru, dan membimbing individu – individu tersebut untuk menemukan pemecahan – pemecahan terhadap masalah mereka sendiri.
2. Emosi – emosi yang kalut. Orang – orang yang mencari terapi pada umumnya mengalami emosi yang sangat tidak menyenangkan. Dengan mendorong pasien untuk mengungkapkan secara bebas perasaan – perasaan dan memberikan suatu lingkungan yang menunjang, para terapis membantu mereka menggantikan perasaan – perasaan mereka tersebut, seperti perasaan putus asa dan perasaan tidak mampu dengan perasaan – perasaan yang tidak mengandung harapan dan percaya akan diri sendiri.
3. Tingkah laku – tingkah laku yang kalut. Individu – individu yang mengalami kesulitan biasanya memperlihatkan tingkah laku – tingkah laku yang mengandung masalah. Para terapis membantu pasien – pasien mereka menghilangkan tingkah laku – tingkah laku yang mengganggu itu dan membimbing mereka pada kehidupan yang lebih efektif.
4. Kesulitan – kesulitan antarpribadi dan situasi kehidupan. Para terapis membantu para pasien memperbaiki hubungan mereka dengan keluarga, teman – teman, dan kolega – kolega seprofesi. Mereka juga membantu para pasien itu menghindari atau mengurangi sumber – sumber stress dalam kehidupan mereka seperti tuntutan pekerjaan atau konflik – konflik keluarga.
5. Gangguan – gangguan biomedis. Individu – individu yang mengalami kesulitan kadang – kadang menderita gangguan biomedis yang langsung menyebabkan atau menambah kesulitan – kesulitan psikologis. Para terapis membantu menghilangkan masalah – masalah ini pertama – tama dengan obat – obatan, dan kadang – kadang dengan terapi elektrokonvulsif atau psikobedah. Meskipun kebanyakan terapis dapat bekerja dengan para pasien – pasien dalam bidang ini tetapi penekanan berbeda menurut latar belakang pendidikan terapis. Para terapis yang menggunakan teknik biomedis berusaha merubah gangguan – gangguan biologis.

Selain itu mengenai tujuan dari psikoterapi secara khusus dari beberapa metode dan teknik psikoterapi yang banyak peminatnya, dari dua tokoh yakni Ivey, et al [1987] dan Corey [1991].
1. Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikodinamika menurut Ivey, et al [1987] adalah membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekontruksi kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.
2. Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikoanalisis menurut Corey [1991] dirumuskan sebagai : membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien dalam menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.
3. Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Rogerian, terpusat pada pribadi, menurut Ivey, et al [1987] adalah untuk memberikan jalan terhadap potensi yang dimiliki seseorang menemukan sendiri arahnya secara wajar dan menemukan dirinya sendiri yang nyata atau yang ideal dan mengeksplorasi emosi yang majemuk serta member jalan bagi pertumbuhan dirinya yang unik.
4. Tujuan psikoterapi dengan pendekatan behavioristik, dijelaskan dalam Ivey, et al [1987] sebagai berikut : untuk menghilangkan kesalahan dalam belajar dan berprilaku dan untuk mengganti dengan pola-pola perilaku yang lebih bisa menyesuaikan.
5. Tujuan psikoterapi dengan metode dan teknik Gestalt, dirumuskan oleh ivey, et al [1987] sebagai berikut: Agar seseorang lebih menyadari mengenai kehidupannya dan bertanggung jawab terhadap arah kehidupan seseorang.
6. Pada akhirnya uraian mengenai tujuan psikoterapi ditutup dengan uraian mengenai terapi realitas dari kedua tokoh tersebut. Ivey, et al [1987] merumuskan psikoterapi dengan pendekatan terapi realitas sebagai: Untuk memenuhi kebutuhan seseorang tanpa dicampur tangani orang lain. Untuk menentukan keputusan yang bertanggung jawab dan untuk bertindak dengan menyadari sepenuhnya akan akibat-akibatnya.

C. Unsur-unsur
Masserman (1984) menjelaskan delapan ‘parameter pengaruh’ dasar yang mencakup unsur-unsur lazim pada semua jenis psikoterapi, yaitu :
1. Peran sosial (martabat)
2. Hubungan (persekutuan tarapeutik)
3. Hak
4. Retrospeksi
5. Reduksi
6. Rehabilitasi, memperbaiki gangguan perilaku berat
7. Resosialisasi
8. Rekapitulasi

D. Perbedaan Psikoterapi dengan Konseling
Menurut Thompson & Rudolph (1983) psikoterapi dapat dibedakan dengan konseling, yaitu:
KONSELING:
1. Klien
2. Gangguan yang kurang serius
3. Masalah : jabatan, pendidikan
4. Berhubungan dengan pencegahan
5. Lingkungan pendidikan & nonmedis.
6. Berhubungan dengan kesadaran.
7. Metode pendidikan.

PSIKOTERAPI:
1. Pasien.
2. Gangguan yang serius.
3. Masalah kepribadian dan pengambilan keputusan.
4. Berhubungan dengan penyembuhan.
5. Lingkungan medis.
6. Berhubungan dengan ketidaksabaran.
7. Metode penyembuhan.

Namun menurut Gunarsa (2004) psikoterapi dengan konseling dibedakan sebagai berikut :
1. Konseling dan psikologi dapat dipandang berbeda ruang lingkupnya psikoterapi mempunya makna ganda, pada satu segi, ia menununjuk pada sesuatu yang jelas, yaitu suatu bentuk terapi psikologis. sedangkan konseling merupakan salah satu bentuk psikoterapi.
2. Psikoterapi lebih berfokus pada konseren, ikhwal, masalah, pengembangan-pendidikan-pencegahan. Sedangkan psikoterapi lebih memfokus pada konseren atau masalah penyembuhan-penyesuaian-pengobatan.
3. Konseling dijalankan atas dasar falsafah atau pandangan terhadap manusia, sedangkan psikoterapi dijalankan berdasarkan ilmu atau teori kepribadian dan psikopatologi.
4. Psikoterapi dan konseling mempunyai tujuan berbeda.

E. Pendekatan Psikoterapi pada Mental illness
Dalam ilmu psikologi ada banyak sekali metode yang bisa digunakan dalam terapi. Semua metode itu merupakan hasil pemikiran dan penelitian dari para pakar psikologi dari berbagai penjuru dunia. Dari sekian banyak metode psikoterapi yang ada, bisa dikategorikan dalam lima pendekatan, yaitu:
1. Psychoanalysis & Psychodynamic
Pendekatan ini fokus pada mengubah masalah perilaku, perasaan dan pikiran dengan cara memahami akar masalah yang biasanya tersembunyi di pikiran bawah sadar. Psychodynamic (Psikodinamik) pertama kali diciptakan oleh Sigmund Feud (1856-1939), seorang neurologist dari Austria. Teori dan praktek psikodinamik sekarang ini sudah dikembangkan dan dimodifikasi sedemikian rupa oleh para murid dan pengikut Freud guna mendapatkan hasil yang lebih efektif.
Tujuan dari metode psikoanalisis dan psikodinamik adalah agar klien bisa menyadari apa yang sebelumnya tidak disadarinya. Gangguan psikologis mencerminkan adanya masalah di bawah sadar yang belum terselesaikan. Untuk itu, klien perlu menggali bawah sadarnya untuk mendapatkan solusi. Dengan memahami masalah yang dialami, maka seseorang bisa mengatasi segala masalahnya melalui “insight” (pemahaman pribadi).
Beberapa metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan psikodinamik adalah: Ego State Therapy, Part Therapy, Trance Psychotherapy, Free Association, Dream Analysis, Automatic Writing, Ventilation, Catharsis dan lain sebagainya.
2. Behavior Therapy
Pendekatan terapi perilaku (behavior therapy) berfokus pada hukum pembelajaran. Bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh proses belajar sepanjang hidup. Tokoh yang melahirkan behavior therapy adalah Ivan Pavlov yang menemukan “classical conditioning” atau “associative learning”.
Inti dari pendekatan behavior therapy adalah manusia bertindak secara otomatis karena membentuk asosiasi (hubungan sebab-akibat atau aksi-reaksi). Misalnya pada kasus fobia ular, penderita fobia mengasosiasikan ular sebagai sumber kecemasan dan ketakutan karena waktu kecil dia penah melihat orang yang ketakutan terhadap ular. Dalam hal ini, penderita telah belajar bahwa "ketika saya melihat ular maka respon saya adalah perilaku ketakutan".
Tokoh lain dalam pendekatan Behavior Therapy adalah E.L. Thorndike yang mengemukakan konsep operant conditioning, yaitu konsep bahwa seseorang melakukan sesuatu karena berharap hadiah dan menghindari hukuman.
Berbagai metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan behavior therapy adalah Exposure and Respon Prevention (ERP), Systematic Desensitization, Behavior Modification, Flooding, Operant Conditioning, Observational Learning, Contingency Management, Matching Law, Habit Reversal Training (HRT) dan lain sebagainya.
3. Cognitive Therapy
Terapi Kognitif (Cognitive Therapy) punya konsep bahwa perilaku manusia itu dipengaruhi oleh pikirannya. Oleh karena itu, pendekatan Cognitive Therapy lebih fokus pada memodifikasi pola pikiran untuk bisa mengubah perilaku. Pandangan Cognitive Therapy adalah bahwa disfungsi pikiran menyebabkan disfungsi perasaan dan disfungsi perilaku. Tokoh besar dalam cognitive therapy antara lain Albert Ellis dan Aaron Beck.
Tujuan utama dalam pendekatan cognitive adalah mengubah pola pikir dengan cara meningkatkan kesadaran dan berpikir rasional. Beberapa metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan Cognitive adalah Collaborative Empiricism, Guided Discovery, Socratic Questioning, Neurolinguistic Programming, Rational Emotive Therapy (RET), Cognitive Shifting. Cognitive Analytic Therapy (CAT) dan sebagainya.
4. Humanistic Therapy
Pendekatan Humanistic Therapy menganggap bahwa setiap manusia itu unik dan setiap manusia sebenarnya mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Setiap manusia dengan keunikannya bebas menentukan pilihan hidupnya sendiri. Oleh karena itu, dalam terapi humanistik, seorang psikoterapis berperan sebagai fasilitator perubahan saja, bukan mengarahkan perubahan. Psikoterapis tidak mencoba untuk mempengaruhi klien, melainkan memberi kesempatan klien untuk memunculkan kesadaran dan berubah atas dasar kesadarannya sendiri.
Metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan humanistik adalah Gestalt Therapy, Client Cantered Psychotherapy, Depth Therapy, Sensitivity Training, Family Therapies, Transpersonal Psychotherapy dan Existential Psychotherapy.
5. Integrative / Holistic Therapy
Yang sering saya temui adalah seorang klien mengalami komplikasi gangguan psikologis yang mana tidak cukup bila ditangani dengan satu metode psikoterapi saja. Oleh karena itu, saya menggunakan beberapa metode psikoterapi dan beberapa pendekatan sekaligus untuk membantu klien saya. Hal ini disebut Integrative Therapy atau Holistic Therapy, yaitu suatu psikoterapi gabungan yang bertujuan untuk menyembuhkan mental seseorang secara keseluruhan.

F. Bentuk Utama Terapi
Sampai saat ini, sebagaimana dikemukakan Atkinson, terdapat enam teknik atau bentuk utama psikoterapi yang digunakan oleh para psikiater atau psikolog, antara lain:
1. Teknik Terapi Psikoanalisa
Bahwa di dalam tiap-tiap individu terdapat kekuatan yang saling berlawanan yang menyebabkan konflik internal tidak terhindarkan. Konflik ini mempunyai pengaruh kuat pada perkembangan kepribadian individu, sehingga menimbulkan stres dalam kehidupan. Teknik ini menekankan fungsi pemecahan masalah dari ego yang berlawanan dengan impuls seksual dan agresif dari id. Model ini banyak dikembangkan dalam Psiko-analisis Freud. Menurutnya, paling tidak terdapat lima macam teknik penyembuhan penyakit mental, yaitu dengan mempelajari otobiografi, hipnotis, chatarsis, asosiasi bebas, dan analisa mimpi. Teknik freud ini selanjutnya disempurnakan oleh Jung dengan teknik terapi Psikodinamik
2. Teknik Terapi Perilaku
Teknik ini menggunakan prinsip belajar untuk memodifikasi perilaku individu, antara laindesensitisasi, sistematik, flooding, penguatan sistematis, pemodelan, pengulangan perilaku yang pantas dan regulasi diri perilaku.
3. Teknik Terapi Kognitif Perilaku
Teknik modifikasi perilaku individu dan mengubah keyakinan maladatif. Terapis membantu individu mengganti interpretasi yang irasional terhadap suatu peristiwa dengan interpretasi yang lebih realistik.
4. Teknik Terapi Humanistik
Teknik dengan pendekatan fenomenologi kepribadian yang membantu individu menyadari diri sesunguhnya dan memecahkan masalah mereka dengan intervensi terapis yang minimal (client-centered-therapy). Gangguan psikologis diduga timbul jika proses pertumbuhan potensi dan aktualisasi diri terhalang oleh situasi atau orang lain.
5. Teknik Terapi Eklektik atau Integratif
Yaitu memilih teknik terapi yang paling tepat untuk klien tertentu. Terapis mengkhususkan diri dalam masalah spesifik, seperti alkoholisme, disfungsi seksual, dan depresi.
6. Teknik Terapi Kelompok dan Keluarga
Terapi kelompok adalah teknik yang memberikan kesempatan bagi individu untuk menggali sikap dan perilakunya dalam interaksi dengan orang lain yang memiliki masalah serupa. Sedang terapi keluarga adalah bentuk terapi khusus yang membantu pasangan suami-istri, atau hubungan arang tua-anak, untuk mempelajari cara yang lebih efektif, untuk berhubungan satu sama lain dan untuk menangani berbagai masalahnya.















Daftar Pustaka :
1. Gunarsa, S.D. (2004). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.
2. Drs.Yustinus. (2010). Teori Kepribadian dan Terapi Psikoanalitik. Yogyakarta: Kanisius.
3. Maulany, R.F. (1994). Buku Saku Psikoterapi: Residen Bagian Psikiatri UCLA. Penerbit Buku Kedokteran EGC.